Kampung halaman


Karya Abd Mannan


"Sepertinya tahun ini aku tidak mudik mad" seru firman temanku yang sedari tadi melamun.

"Kenapa man, bukannya kamu sudah niat dari tahun kemaren" tanyaku padanya 

"Yah,  mau pulang uang gak nipis apalagi sekarang masih pendemi mad" jawabnya dengan nada ringan.

"Seng sabar yang penting kamu sekarang masih di beri kesehatan sama yang maha kuasa, kita merantau untuk keluarga juga aku juga mau pulang sebenarnya tapi masih ada yang perlu di persiapkan." Jelasku padanya.

" Sudah yuk tarawih, udah sholat Isyak" 


Memang setelah adanya pendemi ini yang berhasil menggegerkan dunia, ibada perekonomian semua harus ada aturannya, masjid megah terlihat sepi tapi pasar tetap ramai. Padahal ini ramadhan yang penuh berkah seharusnya hari ini ramai.


Lantunan adzan bergema dengan sahdu di sebuah masjid berkubah biru. Masjid Al adzim pandan indah Malaysia, meskipun syahdu tapi sedikit menyayat hati karena kerinduan kampung halaman. Namun walau bagaimanapun kita tidak boleh mengeluh dengan keadaan bahkan harus bersyukur karena masih bisa melaksanakan ibadah puasa dengan segenap amalan amalannya .


Entan ini puasa yang ke berapa? Dan sebentar lagi hari raya idul Fitri, waktu yang sangat singkat dengan 2 tahun di negri orang. 


Aku teringat aroma khas masakan ibu, rujak campurnya nasi jagungnya bahkan aku ingat aroma khas meja, bangku, lemari jati ruang keluarga ibu semua itu takkan terhapus.


Aku anak kedua dari 2 bersaudara, kakakku perempuan namany Novi,  sejak aku merantau ke Malaysia, aku yang membiayai sekolah Kakak meski adik tapi sebagai laki laki akulah penopangnya.


Aku juga ingat desa toroan Ketapang daya Sampang Madura, desa yang tak begitu besar mungkin desa ini bisa di bilang desa pelosok. Sejak kecil aku di lahirkan  dan di besarkan di desa ini.


"Mad, ngelamun aja kamu ayo berangkat katanya mau tarawih" firman mengejutkanku

"Iya man, hayu " 


Duhai bulan purnama kau ada di atas tentu saja kau dapat melihat apa yang ada di sekeliling bumi, tolong sampaikan salamku pada bunda pada ayah yang ku rindu. Bintang sampaikan rinduku lewat kerlipmu pada gelapnya malam, dan malam itu tarawih terasa sangat khidmat.

Jam 10:00 aku dan firman kembali ke kosan dalam kosan itu ada 7 orang kami sama sama dari Madura. Tinggal satu kos dengan satu tujuan, kalian tahu apa tujuan kami, yah mencari duit..hahah...bercanda, yah kami kesini hanya mengadu nasip Mecari sebongkah berlian, kayak lagu bang wali hee..dari mereka yang lebih senior disini ada yang sudah 10 tahun, ada yang masih 5 tahun. Menurutku itu sudah lama kayaknya. 

"Mad, mau makan gak?" Tanya firman dengan Kemabali mengejutkan lamunanku.

" Nanti aja pas sahur man" jawabku singkat

"Kamu mikirin apa sih? Dari tadi ngelamun terus" tanyanya dengan mulut mengunyah

" Lagi mikir kapan nikah..hahaha" candaku pada firman

"Dari pada mikirin nikah yang tak kunjung tiba mending kamu cerita deh yang ada di buku sebelah kamu itu" 

" Yang ini" dengan menunjuk pada satu buku yang ada di sampingku.

" Iya mad, aku mau denger kamu kan jago ngarang cerita, eh baca cerita"

" Hmm..ngawor aku gak pandai kalau ngarang cerita man" 

" Ya sudah aku tak bacain " 

Sambil menemani firman makan akupun mulai bercerita


Seperti mawar yang begitu anggun dengan mahkota merahnya, seperti mawar yang kuat dengan banyak duri di sekujur tubuhnya, dan seperti mawar yang baunya begitu memabukkan bagi siapa saja yang menciumnya. Rose, begitu pria berhidung ingus memanggilnya. Bibir merahnya pecah-pecah seperti mahkota mawar, membuat siapa saja yang menciumnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Kakinya panjang, tubuhnya setinggi kulit putih dan rambut hitam panjang terurai. Begitu sempurna ciptaan tuhan yang satu ini. Sepasang mata lentik dengan bulu mata lentik yang diolesi riasan tipis membuat penampilannya begitu ditunggu-tunggu. Ya, sebagai wanita yang banyak orang sebut sebagai kupu-kupu malam,

"Eh mad, itu cerita apa sih" tanya firman dengan masih makan

" Kamu dengar saja man, aku lagi fokus nih" 

" Ok mad, lanjut"


3 tahun sudah Rose mengabdikan dirinya pada setan-setan yang selalu berhasil membujuknya untuk kembali ke pangkuan kegelapan. Mengejar kenikmatan duniawi yang sebenarnya hanya sementara. Hidup sendiri di Ibu Kota, menjadi salah satu alasan Rose untuk memasuki dunia gelap itu, berbekal tawaran dari salah satu teman yang mengenalkannya pada sosok Mami Jenny, Rosepun memberikan harta paling berharga yang dimilikinya pada seorang duda kaya pemilik perusahaan ternama. Tak main-main, dibayaran pertamanya, Rose mampu menyewa salah satu rumah yang cukup untuk ia tinggali sendiri, dan kini, nama Rose telah menjadi satu nama yang paling dielu-elukan di dunia itu. Nama yang paling dicari oleh para penyewa yang akan dengan sukarela membayarnya dengan harga tinggi, hingga kini Rose memiliki segalanya. Rumah, mobil, tanah, hidup mewah dan tentu saja popularitas.


Namun siapa sangka, di tahun ketiganya di dunia malam itu, Rose selalu bertanya-tanya. Selalu ada sesuatu yang membuatnya gelisah, merasa seperti melupakan sesuatu. Rose seperti mencari sesuatu yang bisa memuaskannya. Awalnya, dia mencoba mengabaikan semua perasaan itu, tetapi hari demi hari, perasaan itu tumbuh di dadanya. Seperti akan membentuk bom yang siap meledak. Rose berpikir bahwa dengan menyajikan hidung ingus, dia akan lupa, tetapi kenyataannya tidak, dia kehilangan sesuatu. Sesuatu yang abstrak dan tidak terdefinisi.


Sorotan malam itu, di bawah sinar bulan, di mana dia seharusnya melayani penyewa yang telah memesannya melalui mami-nya, Rose pergi. Tanpa pamit kepada rekan-rekan profesionalnya, bahkan tanpa takut namanya akan tercoreng karena ketidakprofesionalannya. Bahkan teriakan orang-orang di bar yang menanyakan kemana dia pergi, dia abaikan begitu saja. Rose sendiri tidak tahu kemana dia akan pergi. Dia hanya mengikuti kemana langkahnya akan membawanya. Berjalan di sepanjang trotoar yang begitu sepi, pikirannya melayang. Hati kecilnya berdenyut-denyut seperti memanggil nama, tapi sekali lagi, Rose tidak tahu.


Rose terus berjalan dan berjalan, melewati beberapa warung makan yang tidak terlalu ramai, tentu saja sudah jam setengah 3 pagi, pikir Rose. Berjalan dan berjalan, Rose melewati seekor kucing yang sepertinya memiliki pembeli lebih banyak dari warung makan sebelumnya, tentu saja dipenuhi oleh sebagian besar preman yang menjaga di sekitar pasar karena tidak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat pasar tradisional yang cukup besar. Rose terus berjalan, melewati kucing dan melewati pasar. Berjalan lurus ke depan sampai kedua kakinya berhenti ketika sepasang matanya yang indah menangkap siluet dari sisi lain.


Sebuah gedung dengan cat berwarna krem ​​yang langsung membuat tubuh Rose bergetar. Hatinya sakit seperti pisau daging telah diiris. Lidahnya terjulur hanya untuk menyebut nama gedung itu. Tapi satu hal yang Rose sadari, kakinya terlalu ringan untuk melangkah lebih dekat ke gedung itu. Selangkah demi selangkah Rose menempuh perjalanan hingga kini tubuhnya tepat berada di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati.


"Apakah ini yang dia cari? Apakah ini yang dia rindukan?” pikiran Rose untuk dirinya sendiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar ia mencoba meraih gagang pintu di depannya. Putar perlahan hingga pintu berhasil terbuka dan menampakkan mimbar yang begitu kokoh dengan nama Tuhan di atasnya. Rose terduduk. Air mata mengalir deras. Hatinya hancur.


"Sudah berapa lama aku melupakanmu?" Rose menangis tersedu-sedu.

“Apakah masih akan ada permintaan maaf untukku? Aku terlalu kotor untuk kembali padamu, bahkan aku sepertinya tidak bisa memaafkan diriku sendiri?” kata Rose pada dirinya sendiri.


"Bagaimana Tuhan akan memaafkanmu jika kamu sendiri tidak memaafkanmu" Ucap sebuah suara yang membuat Rose menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah seorang pria paruh baya sang takmir masjid.

"Aku sudah terlalu banyak berbuat dosa" ucap Rose yang kini menundukan wajahnya lagi.

“Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Pengampun atas dosa-dosa semua hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Maafkan dirimu dan bertaubat, jika saja kakimu mau menginjakkan kakinya disini, itu artinya Tuhan masih mau memberimu hidayah, Tuhan ingin kau bertemu dengan-Nya.” tambah Takmir masjid dengan wajah penuh senyum menenangkan.


"Bukankah sudah terlambat?" Tanya Rose lagi, sekarang dia menatap mata pria paruh baya di depannya, dia berniat untuk bertobat dengan tulus, kembali berjalan di jalan sang pencipta, cukup dia membuat dirinya kotor di dalam lubang. dosa, sekarang, hari-harinya harus lebih bermakna.

"Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Yang salah adalah ketika Anda tahu apa yang baik tetapi Anda tidak ingin berubah menjadi lebih baik." kata takmir.


Dan malam itu, bertepatan dengan hari pertama semua Muslim di dunia memulai hari-hari mereka dengan niat untuk merayakan bulan suci, Rose membuat janjinya, janji untuk kembali ke jalan yang seharusnya dia tempuh sejak lama, sebuah janji. untuk selalu berdoa, dengan tangan terulur kepada-Nya, dan berjanji untuk selalu mengutamakan kehidupan akhiratnya di atas kehidupan duniawinya.


Mawar yang kini telah menemukan cahaya-Nya, cahaya yang selalu dia rindukan, cahaya kerinduan Rose.


" Aduh mad, itu ceritanya mengharukan sekali itu yang ngarang siapa sih?"


" Namanya Dhanwantari man, dah kah kamu makannya?"


" Al hamdulillah sudah kenyang, nanti jangan bangunin aku sahur mad aku mau bangun jam 12"


" Bangun magrib aja sekalian"

Kami pun tertawa dan malam itu kami berdua sama sama merindu pada kampung halaman. Semoga tahun depan bisa pulang kampung.



Malaysia, 16 April 2022

Posting Komentar

0 Komentar