Titik Terbaik Takdir Part IV


Karya: Nida


 4. Penguasa sekolah 


Saat ini Hawa sedang berada di dalam toilet sekolah, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin, hijab putihnya sedikit basah karena insiden yang terjadi padanya di koridor sekolah tadi. 


Hawa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Astagfirullah, baru hari pertama masuk udah kayak gini." Keluh Hawa.


KRING!


Suara bel masuk berbunyi nyaring di setiap sudut sekolah. Hawa pun lantas segera keluar dari dalam toilet dan langsung menuju kelasnya. 


Langkah Hawa terhenti tepat di depan pintu yang bertuliskan XI A, kelas barunya. Sebelum masuk Hawa menghembuskan nafasnya lalu ia pun menarik knop pintu itu.


"Assalamualaikum, maaf Bu saya telat," ucap Hawa saat sudah berada di dalam kelas. 


"Wa'alaikumsalam, kamu Hawa siswi baru di kelas ini ya?" tanya Bu Sonia.


"Iya Bu."


"Loh kenapa hijab kamu basah?" tanya Bu Sonia.


"Tadi ada masalah kecil Bu," jawab Hawa.


"Baik, nggak apa-apa. Silakan perkenalkan diri kamu dulu." titah Bu Sonia.


Hawa mengangguk. "Perkenalkan nama saya Hawa Shakaela Qulaibah, kalian bisa memanggilku dengan sebutan Hawa. Salam kenal!" ucap Hawa.


"Salam kenal juga!" ucap seisi kelas dengan serentak.


"Baik Hawa silakan duduk di kursi kosong itu ya." Tunjuk Bu Sonia ke arah kursi kosong yang terletak di belakang.


Hawa lantas mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kursi itu. Namun sebuah cekalan di pergelangan tangannya sontak membuat dirinya menghentikan langkahnya.


Azka, pemuda itulah yang mencekal kuat pergelangan tangan Hawa membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Apa-apaan kamu? Lepasin!" teriakan Hawa mengundang semua atensi siswa-siswi. Membuat Hawa maupun Azka menjadi sorotan bagi mereka.


"Azka, kamu ngapain Hawa?" tanya Bu Sonia. Sedangkan Hawa berusaha melepaskan cekalan Azka. Ia takut Allah akan murka dengannya, dia dan Azka bukan mahram.


Azka melepaskan cekalannya, lalu berdiri mendekati Hawa dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Hawa.


"Lo udah salah orang buat cari masalah. Dan mulai sekarang lo ada di tangan gue, Hawa." Bisikan Azka membuat bulu kuduk Hawa meremang, gadis itu lantas langsung berlari dan segera duduk di kursinya. Beberapa kali ia beristighfar di dalam hatinya, berharap ia tidak akan bertemu Azka walaupun itu mustahil karena ia dengan Azka ada di ruangan yang sama.


"Baik anak-anak buka buku kimia kalian!" titah Bu Sonia. 


•••


KRING!


Bel istirahat berbunyi nyaring, seluruh siswa-siswi SMA angkasa berhamburan keluar dari dalam kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan siswa-siswa kelas XI A, sekarang hanya tersisa Hawa dan beberapa murid lainnya.


Dua orang siswi berhijab berjalan mendekati meja Hawa, senyuman manis merekah di kedua sudut bibirnya.


"Hai, Hawa! Kenalin nama gue Fatimah Quwaidah, lo bisa manggil gue Fatimah!" ucap seorang siswi kepada Hawa seraya mengulurkan tangan kanannya.


Hawa tersenyum, lantas ia pun membalas uluran tangan Fatimah.


"Aku Hawa, salam kenal," ucap Hawa.


"Aku Nasywa Zahira, kamu bisa panggil aku Nasywa," ucap Nasywa seraya tersenyum manis.


"Aku Hawa, salam kenal," ucap Hawa.


"Hawa, ayo ke kantin bareng kita!" Ajak Nasywa.


"Boleh."


Kedua tangan Hawa lantas di tarik oleh Fatimah dan Nasywa menuju kantin sekolah.


Dan di sinilah mereka sekarang, duduk di ujung kantin dengan bakso di hadapan mereka masing-masing.


"Ayo Hawa makan! Bakso ini enak banget loh!" ucap Fatimah dengan antusias.


Hawa hanya mengangguk, ia bingung harus meresponnya seperti apa, karena pikirannya masih terpaku dengan ancaman siswa yang ia jumpai di kelas tadi.


"Hawa, gue boleh nanya," ucap Fatimah.


"Boleh."


"Sebenernya lo ada hubungan apa sama Azka? Nama lo trending lo di grup sekolah," ucap Fatimah.


"Hah Azka?" tanya Hawa tak mengerti.


"Iya Azka, siswa yang tadi pagi ngebully orang itu namanya Azka. Siswa badboy, penguasa sekolah juga ketua basket di SMA Angkasa," ucap Fatimah.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Tadi pagi aku cuman nolongin orang yang lagi di buly itu aja," ucap Hawa.


"Azka itu orangnya kejam, dia nggak mandang bulu buat nyakitin orang. Jadi, gue cuman ngasih tau mulai saat ini lo harus hati-hati sama gengnya Azka," ucap Fatimah.


"Geng Azka?" tanya Hawa tak mengerti.


"Iya, geng Alaska, yang terdiri dari lima anggota inti. Azka ketua geng, Kenzo orang yang paling dingin dan cuek, Zany, Galang dan Alan. Sekumpulan siswa tampan yang jago basket mereka adalah inceran semua siswi di sini, dan jangan lupa mereka adalah penguasa sekolah yang selalu menentang anak-anak OSIS, Arsya dan yang lainnya. Arsya juga siswa incaran siswi disini, selain wajahnya yang tampan dia juga seorang ketua OSIS di sini, sifatnya yang dingin menjadi objek yang menarik di mata siswi sini," ucap Fatimah.


"Oh gitu," ucap Hawa.


"Hanya oh? Hawa sadar lo lagi dalam bahaya! Pokoknya lo harus hati-hati sama mereka. Dan mulai sekarang lo adalah sahabat kita berdua, iya kan, Wa?" ucap Fatimah kepada Nasywa.


"Bener banget! Pokoknya kita sekarang sahabat, jadi kalau kamu di apa-apain sama Azka bilang ke kita ya?" ucap Nasywa.


Hawa terkekeh geli, lalu ia pun mengangguk singkat. "Makasih ya," ucapan.


"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Hawa.


"Mau aku temenin?" tawar Nasywa.


"Nggak usah kalian lanjut makan aja." Tolak Hawa.


"Oke, jangan lama-lama ya!" ucap Nasywa. Hawa pun mengangguk singkat, lalu segera pergi meninggalkan kantin untuk menuju toilet sekolah.


Hawa berjalan melewati koridor sekolah, lalu segerombolan siswi berpakaian minim menghalangi jalannya.


"Oh ini orangnya yang berani melawan Azka," ucap seorang siswi bernama Shelin.


"Cara caper lo ke Azka norak tau nggak!" bentak Violet.


"Girls, bawa cewek ini ke gudang!" titah Selin. Lantas teman-temannya pun menyeret Hawa.


"Aku mau di bawa kemana? Lepasin!" Hawa berusaha memberontak.


Setelah berada di dalam gudang tubuh Hawa langsung di hempaskan begitu saja, membuat Hawa teejatuh di lantai gudang yang kotor.


Shelin mencengkeram kuat rahang Hawa membuat sang empu meringis kesakitan.


"Lo nggak tau Azka itu siapa, hah?!" bentak Shelin.


"Tau atau nggaknya itu nggak masalah bagi aku. Aku hanya menolong orang yang sepatutnya di tolong!" ucap Hawa tegas.


Shelin dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. 


"Girls, gunting jilbabnya!" titah Selin.


"Oke!" 


Violet pun mengeluarkan sebuah gunting dari saku seragam, dan mengarahkannya ke arah Hawa, membuat Hawa menyeret dirinya menjauh dari Violet.


"J-jangan," lirih Hawa, sedangkan Selin dan yang lainnya sudah tertawa puas.


Kedua tangan Hawa di tahan oleh Lia dan Nanda membuat Hawa tidak bisa memberontak, dan gunting di tangan Violet pun juga sudah sedikit mencabikan ujung hijab Hawa, membuat Hawa hanya pasrah dan berharap jika ada seseorang yang akan menolongnya.


Prok


Prok


Prok


Suara tepuk tangan seseorang menghentikan aksi gila yang di lakukan oleh empat gadis itu. Seorang siswa dengan seragam lengkap yang melekat di badannya menatap datar ke arah empat gadis itu, sedangkan empat gadis itu sudah sangat ketakutan.


Siswa itu menenggelamkan kedua tangannya di dalam saku celananya, lalu berjalan mendekati mereka.


"A-arsya?" ucap Selin. Sial! Kenapa dia sangat takut dengan tatapan tajam Arsya.


"Hanya seorang pengecut yang berani main keroyokan." Arsya menatap datar ke arah Selin. "Lo paham kan?" tanya Arsya membuat Selin susah payah menelan ludahnya.


"Arsya, ini nggak seperti yang lo lihat!" ucap Selin.


"Keluar," ucap Arsya.


"Arsya?" 


"Keluar."


Selin menghentakkan kakinya, lalu berlari keluar dari dalam gudang di susul oleh ketiga sahabatnya.


Arsya menatap Hawa yang sudah menangis di tempat. Kondisi gadis itu benar-benar sudah sangat berantakan.


"M-makasih," ucap Hawa.


"Sekarang ke UKS, nanti gue izinin ke Bu Sonia kalau lo sakit," ucap Arsya.


"Nggak bisa, ini hari pertama aku sekolah disini," ucap Hawa.


"Gue sekelas sama lo, jadi gue bisa izinin dengan alasan lo sakit. Jangan keras kepala, kondisi lo sekarang udah berantakan," ucap Arsya penuh penekanan, membuat Hawa hanya mengangguk pasrah.


"Sekarang ke UKS." Titahnya.

Posting Komentar

0 Komentar