Karya : Nida syahidah
"Assalamualaikum," ucap seorang gadis dengan jas putih yang ia gantungkan di tangan kirinya, gadis itu baru saja memasuki ndalem.
"Waalaikumsalam." Jawab seisi ndalem.
"Teh Humaira!" ucap Hawa, gadis itu pun lantas langsung berlari dan berhambur memeluk erat Humaira.
Awalnya Humaira sangat terkejut, namun saat itu juga Humaira langsung membalas pelukan hangat Hawa.
"MasyaAllah keponakan teteh yang paling cantik udah pulang!" ucap Humaira.
Hawa pun melerai pelukannya, lalu tersenyum manis ke arah Humaira.
"Hawa kangen banget sama Teteh!" ucap Hawa.
Humaira lantas mencubit pelan pipi chubby Hawa. "Teteh apalagi kangen banget! Kangen dengerin bawelnya Hawa!" ucap Humaira, yang lantas mengundang isi ndalem.
"Tuhkan, teh Humaira aja bilang kamu bawel, berarti aku bener dong." Adam ikut menimbrung.
Hawa berdecak kesal. "Ish, Adam! Hawa nggak bawel ya!" tukas Hawa kesal.
Adam memutar bola matanya jengah. "Iyain deh buat adik tersayang!" ucap Adam, lantas Hawa pun terkekeh geli mendengarnya.
"Teh Humaira pasti habis pulang dari rumah sakit ya?" tebak Hawa.
"Kok Hawa tau?" tanya Humaira.
Hawa pun melirik jas putih milik Humaira yang ia gantungkan di lengan kirinya. Memang gadis yang kini berusia 23 tahun itu sudah menjadi Dokter muda di sebuah rumah sakit terkenal di kota Bandung. Memilih menjadi Dokter adalah keinginan Zulaikha saat gadis itu masih hidup, jadi dengan Humaira menjadi Dokter ia berharap jika rasa rindunya terhadap Zulaikha sedikit terobati.
Humaira tersenyum. "Iya sayang, teteh habis dari rumah sakit," ucapnya.
"Yaudah ganti baju sana, teteh bau tau!" ucap Hawa.
Humaira memutar bola matanya jengah, sifat Hawa sudah mulai kumat! "Uh dasar! Kamu juga bau tau!" ucap Humaira.
"Hawa wangi ya!" ucap Hawa tak mau kalah.
"Pokoknya Hawa bau, bye!" Setelah mengatakan itu Humaira pun langsung berlari menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Sedangkan Adam, Yusuf, Zahra dan Hasan bertugas untuk menertawakan Hawa yang sudah tampak jengkel.
•••
Hembusan angin malam menerpa lembut wajah Hawa dan Adam yang sedang menatap ribuan benda angkasa dari teras ndalem. Keduanya menikmati angin malam yang seolah-olah berbisik kepada mereka menyampaikan pesan kerinduan.
"Dam." panggil Hawa.
"Kenapa?" tanya Adam.
"Aku rindu, Ummi. Sekarang Ummi lagi apa ya?" tanya Hawa, sebulir cairan bening keluar dari pelupuk matanya.
Pertanyaan Hawa tadi tepat menusuk ulu hatinya. Sungguh ia juga sangat merindukan Umminya yang bahkan belum pernah mereka berdua jumpai.
Tangan Adam tergerak untuk menghapus air mata di pipi Hawa.
"Ummi sekarang sudah di syurga, Hawa." Jawab Adam.
Hawa tersenyum. "Iya, kamu benar. Ummi sekarang sudah bahagia di syurga. Hawa nggak boleh cengeng, biar Ummi nggak sedih," ucap Hawa. Lantas Adam pun tersenyum.
"Jangan sedih lagi ya?" ucap Adam. Hawa pun mengangguk.
Keheningan pun terjadi di antara mereka berdua. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Hawa." panggil Adam.
Hawa pun menoleh ke arah Adam. "Apa?" tanyanya.
"Kamu, pernah jatuh cinta?" tanya Adam malu-malu.
"Kamu lagi jatuh cinta ya? Sama siapa? Nanti aku bilang Abi, biar Adam cepet nikah!" ucap Hawa di sertai kekehan kecil di akhir kalimatnya.
"Enak aja, aku masih SMA ya!" tukas Adam.
Hawa terkekeh geli. "Iya aku bercanda kali, Dam."
"Yaudah jawab kamu pernah jatuh cinta?" tanya Adam lagi.
"Pernah. Setiap manusia pasti pernah merasakan jatuh cinta, Dam. Dulu aku mencintai seseorang yang aku anggap dia itu laki-laki baik. Ya, aku menganguminya sampai aku menyelipkan namanya di setiap do'aku. Setelah itu kamu mau tau apa yang terjadi?" tanya Hawa. Adam pun mengangguk.
"Allah membuka perlahan keburukannya. Ternyata dia orang yang akrab dengan semua perempuan, medsosnya ia jadikan seperti asmara putri. Apa aku harus percaya dengan laki-laki yang tidak mau menjaga pandangannya? Jangan bercanda!" ucap Hawa.
"Setelah itu aku tidak mengagumi siapapun, biarlah aku mengikuti titik terbaik takdir," lanjutnya, membuat Adam terdiam.
"Terkadang yang menurut kita baik belum tentu menurut Allah baik. Dan terkadang Allah menjauhkan kita dari seseorang dengan memperlihatkan suatu keburukan dari orang tersebut agar kita menjauhkannya," ucap Adam.
"Iya kamu benar," ucap Hawa.
•••
"Shobahul khoer, Abi, Nenek,Kakek, Teh Humaira, Adam!" ucap Hawa yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Shobahunnur, Hawa!" Jawab mereka serentak.
"Duduk, Nak. Kita sarapan," ucap Zahra. Hawa pun mengangguk serta duduk di kursi makan di samping Adam.
"Hawa lauknya mau apa sayang? Biar Abi sendokkan," ucap Yusuf.
"Semuanya boleh Bi," ucap Hawa di sertai kekehan kecil di akhir kalimatnya.
"Oke!"
"Hawa mah jangan di tanya tentang makanan, Bang! Pasti dia mah semuanya mau," ucap Humaira seraya terkekeh geli.
Hawa memutar bola matanya malas. "Teh Humaira mah!" ucap Hawa, yang mengundang tawa dari mereka semua.
"Hawa nanti mau sekolah dimana? Di pesantren ini bareng Adam atau di luar?" tanya Yusuf.
"Sebenarnya Hawa pengen banget sekolah di luar, Bi." Jawab Hawa.
"Mau dimana?" tanya Yusuf.
"Di SMA Angkasa High School." Jawab Hawa.
"Itu kan sekolah elit di sini, siswa-siswinya juga rata-rata jauh dari kata Agama Islam. Emang kamu mau?" tanya Adam yang memang sangat mengetahui seluk beluk SMA Angkasa High School, karena salah satu sahabatnya sekolah di sana.
Hawa memilinkan ujung hijabnya. "Sebenarnya Hawa mau banget, karena masuk SMA Angkasa impian Hawa banget," ucap Hawa.
Yusuf tersenyum lalu mengusap lembut pucuk kepala Hawa yang di balut oleh hijab.
"Nanti setelah sarapan Abi daftarkan Hawa di SMA Angkasa. Tapi janji harus tetap menebarkan kebaikan di sana ya?" ucap Yusuf, lantas kedua mata Hawa pun langsung berbinar-binar.
Hawa mengangguk cepat. "Hawa janji!" ucapnya dengan semangat.
"Anak sholehah!" ucap Yusuf.
"Adam juga mau sekolah di sana juga?" tawar Yusuf.
"Nggak deh, Bi. Adam di sini aja, tanggung udah kelas sebelas juga, heheh," ucap Adam seraya terkekeh pelan di akhir kalimatnya.
"Adam pasti, nggak mau lah Bang. Orang di sini ada santriwati yang dia idamin," ucap Humaira yang langsung mendapatkan pelototan dari Adam.
"Yang bener, Dam? Kamu lagi jatuh cinta sama santriwati sini?" tanya Yusuf.
"Nggak, Bi. Teh Humaira mah jangan di dengerin." Elak Adam, membuat mereka semua menertawainya ya wajah Adam yang tiba-tiba berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.
Apa saat ini Adam sedang malu?
_Bekasi, 20 Januari 2022_
0 Komentar